MUARA BULIAN – Gelombang nasionalisme yang membakar dada, manifesto persatuan yang tak tergoyahkan, dan komitmen absolut terhadap kedaulatan NKRI menggema dahsyat merubuhkan sunyi dari Lapangan Garuda, Kota Muara Bulian. Pemerintah Kabupaten Batang Hari sukses menghentak publik melalui Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 yang digelar dengan kemegahan kolosal penuh wibawa, Senin (1/6/2026).
Upacara ini bukan sekadar baris-berbaris biasa; atmosfer khidmat yang luar biasa magis menyelimuti seluruh area. Kehadiran jajaran elite Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kombinasi solid unsur TNI-Polri, Aparatur Sipil Negara, tokoh lintas generasi, hingga barisan pemuda terpelajar menjadi saksi hidup bagaimana Bumi Serentak Bak Regam mengunci mati komitmen mereka: Pancasila adalah fondasi abadi yang tak boleh diganggu gugat.
Bupati Batang Hari, Mhd Fadhil Arief, S.E., berdiri tegap sebagai Inspektur Upacara dengan kharisma kepemimpinan yang mengintimidasi tantangan zaman. Di sisinya, Kapolres Batang Hari, AKBP Arya Tesa, S.I.K., bersama jajaran petinggi Forkopimda lainnya menunjukkan garis komando yang solid, memancarkan sinergi kepemimpinan daerah yang tangguh dan siap pasang badan mengawal kebangsaan di tengah turbulensi global.
Taktis dan presisi, komando upacara dipegang teguh oleh IPDA Eric Meibuqhin Nasution, S.H., M.H.. Di belakangnya, barisan Perwira Polres Batang Hari berdiri kokoh bagai pilar penopang sebagai Komandan Kompi: IPDA Mas Oki Saputra, S.H., IPDA Maranata Zebua, S.H., IPDA Mustafa Kemal, S.Pd.I., dan IPDA Rinaldo Gustian Ginting, S.H.
Di bawah saksi langit Muara Bulian, prosesi pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih Kabupaten Batang Hari melesat tanpa cela, memompa adrenalin patriotisme setiap pasang mata. Momentum sakral ini kian menggetarkan jiwa saat Mustaqim, S.P. (Dinas Kominfo) membakar semangat lewat pembacaan Pembukaan UUD 1945, ditutup dengan untaian doa yang menembus langit oleh Mekki Ansari, S.Sos.I. (Kementerian Agama).
Dalam amanat agung yang dibacakannya, Bupati Mhd Fadhil Arief menyampaikan pesan keras dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI. Ditegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila adalah momentum refleksi geopolitik nasional untuk mempertebal tameng ideologi di tengah hantaman badai global yang kian kompleks.
Mengusung tema besar “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, perhelatan tahun ini melempar pesan tegas ke panggung internasional. Pancasila bukan hanya magnet perekat ribuan pulau, ratusan suku, dan keberagaman di Indonesia, melainkan doktrin nyata negeri ini dalam mendikte tatanan dunia agar damai, adil, dan berperadaban.
Di tengah hantaman disrupsi teknologi, krisis ekonomi global, hingga memanasnya gesekan geopolitik internasional, Pancasila terbukti tetap menjadi bintang penuntun (guiding star) yang mengunci arah kompas perjalanan bangsa agar tidak oleng.
“Pancasila bukan warisan beku yang dipajang di museum sejarah! Ia adalah pedoman hidup dinamis yang harus mengalir di setiap urat nadi kebijakan, tindakan, dan pengabdian nyata kepada masyarakat!”bunyi manifesto tegas Kepala BPIP yang dibacakan Bupati.
Melalui nilai kemanusiaan dan musyawarah, Batang Hari mengirim pesan kuat: Indonesia siap mengambil peran sentral sebagai jembatan dialog konflik internasional. Generasi muda yang hadir pun ditantang keras untuk tidak menjadikan Pancasila sebagai jargon formalitas, melainkan sebagai living ideology—ideologi yang hidup, bergerak, dan membimbing karakter mereka sehari-hari.
Upacara ini ditutup dengan kebanggaan yang membubung tinggi. Sebuah penegasan mutlak bahwa dari jantung Batang Hari, Pancasila akan terus menjadi napas perjuangan, pembakar semangat keberagaman, dan fondasi baja yang mengantar Indonesia melesat tak terbendung menuju gerbang Indonesia Emas yang berdaulat, maju, adil, dan bermartabat.
“Selamat Hari Lahir Pancasila. Jayalah Indonesiaku.
Merdeka!”
(Red)**






