Tebo, Jambi – Di balik lebatnya hutan Jambi, Suku Anak Dalam (SAD) terus mempertahankan adat dan kehidupan yang telah diwariskan turun-temurun. Temenggung Ngadap, pemimpin suku yang disegani, dengan tegas menyuarakan bahwa hutan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber kehidupan yang tak ternilai bagi komunitasnya.
“Hutan itu bukan sekadar pohon dan tanah. Ia adalah rumah kami, kehidupan kami, dan adat kami. Jika hutan hilang, kami pun akan hilang,” tegasnya.
Bagi Suku Anak Dalam, hutan adalah tempat mencari makan, obat-obatan, dan bahan untuk keperluan sehari-hari. Namun lebih dari itu, hutan adalah pusat budaya dan spiritualitas mereka. Di dalamnya, mereka menjalankan adat, mengadakan ritual, dan menjaga keseimbangan dengan alam.
Pemimpin yang Berakar Kuat pada Tradisi
Sebagai temenggung, Ngadap tidak hanya memimpin, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur mereka. Ia percaya bahwa seorang pemimpin sejati harus dipilih berdasarkan kebijaksanaan dan kemampuannya menjaga kesejahteraan rakyatnya.
“Temenggung bukan sekadar gelar, tapi amanah. Pemimpin harus mampu menjaga rakyatnya, bukan hanya duduk di atas nama,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam sistem adat SAD, seorang temenggung tidak bisa dipilih sembarangan. Proses pemilihannya melibatkan musyawarah dan pertimbangan mendalam agar pemimpin yang terpilih benar-benar mampu mengayomi warganya.
Ancaman terhadap Hutan dan Masa Depan SAD
Di tengah perkembangan zaman, ancaman terhadap hutan adat semakin nyata. Pembukaan lahan secara masif, perambahan hutan, dan eksploitasi sumber daya alam semakin mempersempit ruang hidup Suku Anak Dalam.
“Kami bukan menolak pembangunan, tapi jangan sampai kami yang jadi korban. Jika hutan ditebang habis, di mana kami akan tinggal? Di mana anak-anak kami akan belajar tentang adat?” katanya dengan nada penuh keprihatinan.
Bagi mereka, hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan warisan yang harus dijaga. Setiap pohon dan tanah memiliki nilai historis dan spiritual yang mendalam.
Harapan untuk Pemerintah dan Masyarakat
Temenggung Ngadap berharap agar pemerintah lebih memperhatikan hak-hak masyarakat adat. Ia juga mengajak masyarakat luas untuk memahami bahwa keberadaan Suku Anak Dalam bukanlah hambatan bagi pembangunan, melainkan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga.
“Kami tidak meminta banyak. Kami hanya ingin hidup sesuai adat kami, menjaga hutan kami, dan diterima sebagai bagian dari negeri ini,” ujarnya.
Pesan ini menjadi panggilan bagi semua pihak bahwa pelestarian adat dan lingkungan bukan hanya tanggung jawab Suku Anak Dalam, tetapi tugas bersama untuk masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Video Yayasan ORIK Tebo – Kesaksian Temenggung Ngadap, Suku Anak Dalam Tanah Garo.







