Bungo, – Minggu (31/05/2026) Hari ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah momentum yang menandai “loncatan kelas” dunia pendidikan tinggi Islam di Bungo. Institut Agama Islam Yasni Bungo resmi bertransformasi menjadi Universitas Islam Yasni Bungo — sebuah perubahan besar yang langsung mengubah peta pendidikan di daerah ini
Di bawah naungan Yayasan Nurul Islam, transformasi ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan deklarasi terbuka: Bungo siap melahirkan generasi unggul dengan cakupan ilmu yang lebih luas, modern, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam.
Tak berhenti di situ, momen bersejarah ini langsung “dipanaskan” dengan pembukaan Festival Kebudayaan, Seni, dan Keagamaan pertama di kampus tersebut. Perpaduan intelektual, spiritual, dan budaya menjadikan acara ini bukan hanya resmi—tapi hidup, berdenyut, dan penuh energi.
Dukungan pemerintah hadir tanpa setengah hati. Bupati Bungo, Dedi Putra, bersama Wakil Bupati Tri Wahyu Hidayat, turun langsung menandatangani prasasti—sebuah simbol kuat bahwa perubahan ini bukan wacana, tapi langkah nyata yang didorong penuh oleh daerah.
Legitimasi akademik pun tak diragukan.
Koordinator Kopertais Wilayah XIII Jambi, Kasful Anwar, menegaskan bahwa transformasi ini adalah jawaban konkret atas tuntutan zaman—di mana masyarakat membutuhkan pendidikan tinggi yang tak lagi sempit, tapi terbuka dan multidisiplin.
Ketua Yayasan Nurul Islam, Idham Khalid, menyampaikan pesan tegas:
Perubahan ini adalah komitmen jangka panjang. Universitas Islam Yasni Bungo harus menjadi “pabrik” lahirnya generasi beriman, berilmu, dan berbudaya.
Acara berlangsung khidmat namun penuh semangat. Dari lantunan ayat suci Al-Qur’an hingga momen sakral penandatanganan prasasti, semuanya mengalir dalam satu pesan: perubahan ini serius dan tak bisa dipandang sebelah mata.
Deretan tokoh penting turut hadir—mulai dari unsur MUI, NU, Muhammadiyah, Kementerian Agama, hingga Forkopimda seperti Kapolres dan Danramil, serta jajaran pemerintah daerah termasuk Camat Bathin III. Kehadiran mereka menjadi bukti kuat bahwa transformasi ini adalah gerakan bersama, bukan kerja satu pihak.
Kini, status baru sebagai universitas membawa beban sekaligus harapan besar. Universitas Islam Yasni Bungo dituntut bukan hanya mencetak lulusan, tapi melahirkan generasi yang siap bersaing, berpikir luas, dan tetap berpijak pada nilai keislaman.
Ini bukan akhir—ini titik mulai.
Dan dari Bungo, sebuah langkah besar baru saja menggema.(Dyan)







