BUNGO – Kisah pilu pasangan lansia di Dusun Pasar Rantau Embacang (Pasa Rebo), Kecamatan Tanah Sepenggal, yang hidup dalam kondisi sakit dan keterbatasan ekonomi, kini tidak hanya mengundang simpati publik, tetapi juga memunculkan sorotan tajam terhadap peran dan kepedulian pemerintah dusun.

 

Banyak warga mempertanyakan bagaimana mungkin kondisi keluarga yang begitu memprihatinkan ini seolah tidak terpantau. Sang suami telah hampir setahun tidak mampu berjalan akibat sakit yang dideritanya, sang istri juga dalam kondisi sakit-sakitan, sementara kebutuhan hidup sehari-hari semakin sulit dipenuhi karena tidak ada lagi anggota keluarga yang mampu menjadi tulang punggung.

 

Sorotan publik pun mengarah kepada Sulaini selaku Rio (Kepala Dusun) Pasar Rantau Embacang. Sebagai pemimpin di tingkat pemerintahan paling dekat dengan masyarakat, fungsi pendataan, pengawasan, dan perlindungan terhadap warga rentan seharusnya menjadi perhatian utama. Namun fakta bahwa keluarga ini baru mendapat perhatian luas setelah kisahnya viral di media sosial menimbulkan pertanyaan besar: apakah pemerintah dusun benar-benar mengetahui kondisi warganya, atau justru baru bergerak setelah menjadi konsumsi publik?

Menurut keterangan salah seorang warga, Indra, keluarga tersebut memang pernah menerima bantuan program bedah rumah. Akan tetapi, bantuan itu diberikan beberapa tahun lalu dan kondisi rumah saat ini kembali memprihatinkan. Dinding dan bagian bangunan terlihat mulai lapuk, sementara fasilitas yang ada jauh dari kata layak untuk ditempati pasangan lansia yang sedang sakit.

 

“Memang dulu pernah dapat bedah rumah, tapi itu sudah lama. Sekarang kondisinya juga sudah rusak lagi,” ungkap Indra.

 

Yang lebih menyayat hati, menurut keterangan warga setempat, pasangan lansia tersebut juga memiliki tiga orang anak yang mengalami keterbelakangan mental. Dengan kondisi demikian, keluarga ini jelas termasuk kelompok masyarakat yang sangat rentan dan semestinya menjadi prioritas dalam pendataan maupun program bantuan sosial dan kesehatan.

 

Fakta-fakta tersebut menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Jika keluarga dengan kondisi seperti ini saja bisa luput dari perhatian hingga harus menunggu viral agar mendapat bantuan, lalu bagaimana dengan warga lain yang mengalami nasib serupa tetapi tidak memiliki kesempatan untuk didengar?

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah di tingkat dusun. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan hanya banyaknya program yang dilaporkan, melainkan sejauh mana negara benar-benar hadir di rumah-rumah warganya yang paling membutuhkan. Jangan sampai kepedulian baru muncul ketika sebuah kisah telah menyebar luas dan menjadi perbincangan publik.

 

Masyarakat kini menanti jawaban dan langkah nyata. Bukan sekadar klarifikasi, tetapi evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendataan dan pengawasan warga rentan di Dusun Pasar Rantau Embacang, agar tidak ada lagi keluarga yang harus memikul penderitaan dalam diam, sementara perhatian baru datang setelah kisah mereka menjadi viral.(Dyan)

Bagikan