JAMBI | SIGAP91NEWS.COM – Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Jambi ke-69 justru menyisakan kekecewaan mendalam bagi tokoh adat se-Provinsi Jambi. Mereka menilai peran dan kontribusi masyarakat adat sama sekali tidak mendapat perhatian dalam rangkaian acara resmi pemerintah daerah.
Kekecewaan tersebut mencuat usai penutupan pameran HUT Provinsi Jambi, Rabu (7/1/2026). Puluhan perwakilan tokoh adat dari berbagai kabupaten dan kota menyatakan keberatan karena dalam pidato resmi Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman, tidak ada satu pun penyebutan atau apresiasi terhadap lembaga adat maupun tokoh adat yang hadir.
Para tokoh adat menilai hal tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap peran strategis masyarakat adat yang selama ini menjadi pilar sejarah, budaya, serta penjaga stabilitas sosial di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.
Selain itu, protokol acara juga dinilai kurang menghormati keberadaan tokoh adat. Tidak tersedia sesi khusus atau bentuk penghargaan kepada pimpinan lembaga adat yang hadir mengenakan pakaian kebesaran adat sebagai simbol kehormatan dan identitas budaya.
Salah seorang anggota Dubalang Lembaga Adat Provinsi Jambi berinisial K.U. menyampaikan bahwa kekecewaan ini bukan sekadar soal tidak disebutkannya nama tokoh adat dalam pidato.
“Kami hadir memenuhi undangan resmi pemerintah dengan pakaian kebesaran adat sebagai bentuk penghormatan. Namun yang kami rasakan, keberadaan masyarakat adat seperti tidak diakui dalam narasi pembangunan,” ujarnya kepada awak media.
Menurutnya, Provinsi Jambi tidak dapat dipisahkan dari tanah ulayat dan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat adat. Ironisnya, pada momentum hari jadi provinsi yang sarat makna sejarah, kontribusi tersebut justru terkesan dikesampingkan.
Ia juga menegaskan bahwa selama ini tokoh adat kerap menjadi garda terdepan dalam meredam konflik horizontal, menjaga keharmonisan sosial, serta mendukung kondusivitas daerah tanpa pamrih.
“Kami selalu hadir ketika negara membutuhkan, mulai dari menyelesaikan konflik hingga menjaga persatuan. Namun di hari ulang tahun provinsi ini, peran itu seolah dilupakan. Ini menyangkut eksistensi dan penghormatan terhadap masyarakat adat,” tegasnya.
Para tokoh adat berharap Pemerintah Provinsi Jambi segera melakukan evaluasi terhadap pola komunikasi dan sikap penghormatan kepada lembaga adat. Mereka menilai pembangunan daerah tidak akan berjalan kokoh dan berkelanjutan jika akar sejarah serta budaya lokal terus diabaikan.(Red)**







