Jenis Cerita: Drama Kriminal Berbasis Realita
“Cerita ini terinspirasi dari kejadian nyata tentang sebuah transaksi jual beli yang berujung pada jebakan licik. Dengan latar kehidupan sehari-hari, kisah ini menggambarkan bagaimana penipuan bisa terjadi di sekitar kita tanpa disadari. Sebuah drama kriminal yang mengajarkan kewaspadaan dan kehati-hatian dalam setiap langkah transaksi.”
Siang itu, matahari terik menyinari halaman rumah Nadira Safitri di Kota Muara Bulian. Sambil duduk di ruang tamu, ia memeriksa ponselnya. Baru saja ia memasang iklan di Marketplace Facebook untuk menjual mobil Daihatsu Sirion miliknya seharga Rp135 juta.
Tak butuh waktu lama, sebuah pesan masuk.
“Mbak, mobilnya masih ada?”
Pengirimnya bernama Reza. Nadira segera membalas, mengonfirmasi bahwa mobil itu masih tersedia. Reza lalu menawarkan bantuan untuk mencarikan pembeli. Nadira tidak curiga, karena baginya ini hal biasa dalam jual beli online.
Empat hari berlalu. Pada Senin, 10 Februari 2025, sekitar pukul 11.00 WIB, dua pria datang ke rumahnya. Mereka mengenalkan diri sebagai Rendy Pratama dan Dika Ardiansyah.
“Kami dari Jambi, Mbak. Mau cek mobilnya, Reza yang kasih info ke kami,” kata Dika.
Nadira mengangguk dan mempersilakan mereka melihat mobilnya. Namun, matanya melebar saat Dika menyebut harga.
“Tadi Reza bilang mobil ini dijual Rp67 juta,” ujar Dika santai.
“Apa?!” Nadira terperanjat. “Saya pasang harga Rp135 juta, dari mana angka 67 juta itu?”
Ia segera mengambil ponselnya untuk memastikan, tetapi tidak ada pesan atau panggilan dari Reza mengenai perubahan harga.
Sekitar setengah jam kemudian, Rendy meminta izin untuk test drive. Ayah Nadira ikut menemani. Sementara itu, Dika sibuk menelepon Reza beberapa kali, meskipun Nadira tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Tak lama kemudian, Nadira mendapat telepon dari Reza.
“Mbak, kalau nanti pembeli tanya, bilang aja ini mobil saya. Mereka nggak mau beli kalau bukan saya yang pegang.”
Nadira mengernyit, merasa ada yang janggal. “Bang, ini mobil saya. Surat-suratnya atas nama saya. Kenapa harus bilang begitu?”
“Udah, Mbak, nurut aja. Nama saya ada masalah di sistem, jadi pakai nama Mbak dulu.”
Jawaban itu semakin membuat Nadira curiga. Tapi ia tetap memperlihatkan STNK dan BPKB saat Dika dan Rendy memintanya untuk dicek.
Beberapa saat kemudian, Dika mengangkat ponselnya dan menunjukkan layar ke Nadira.
“Mbak, saya sudah transfer ke Reza.”
Nadira buru-buru masuk ke rumah untuk mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Reza. Namun, nomor pria itu tiba-tiba tidak aktif. Ia mencoba berkali-kali, tetapi hasilnya sama.
Dika mulai gusar. “Lho, kok nomornya nggak aktif?!” katanya dengan nada kesal.
Ia lalu meminta kunci mobil, tetapi ibu Nadira menolak. “Jangan kasih sebelum uang masuk ke rekening Kakak,” katanya tegas.
Ketegangan memuncak. Dika kehilangan kesabaran dan mulai mengancam.
“Bu, kita nggak bisa lama-lama. Kalau dalam 30 menit nggak ada kejelasan, saya lapor polisi!” bentaknya.
Ibu Nadira tetap tenang, meskipun jelas ada ketegangan di wajahnya. “Sabar, Bang. Kita sama-sama kena tipu. Jangan keras-keras gitu!”
Saat situasi semakin kacau, Rendy menatap Dika dengan tajam. “Kamu kenapa transfer dulu? Harusnya kita ketemu Reza dulu baru bayar!” katanya geram.
Nadira hanya bisa terpaku melihat situasi yang makin runyam. Rendy dan Dika akhirnya pergi, tetapi mereka tidak pergi dengan tangan kosong. STNK dan BPKB mobilnya sudah berada di tangan mereka.
Nadira duduk lemas di kursinya, menatap kosong ke luar rumah. Ia baru saja menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan.
Dengan hati yang penuh amarah dan kecewa, ia akhirnya melangkah menuju kantor polisi. Ini belum selesai. Ia harus mencari keadilan.







