Eso Pamenan bersama Ikhsan, seorang pakar dari Kantor Bahasa Provinsi Jambi.
Batanghari, Senin (17/06/2024) – Nama Eso Pamenan menjadi salah satu tokoh penting dalam dunia jurnalistik di Jambi. Sebagai mantan editor Tribun Jambi selama hampir satu dekade (2010-2019) dan jurnalis senior dengan pengalaman sejak 2004 di Posmetro Jambi (Jawa Pos Grup), Eso dikenal sebagai sosok tegas yang selalu mengedepankan kaidah jurnalistik dan profesionalisme. Perjalanan kariernya di dunia media dimulai jauh sebelum itu.
“Saya mengenal jurnalistik sejak pasca aksi reformasi. Pelatihan pertama yang saya ikuti pada 1998 di Universitas Negeri Lampung, kemudian pada 2000 di IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Bersama rekan-rekan mahasiswa di Universitas Jambi, kami menerbitkan Tabloid Paradigma, tabloid mahasiswa pertama di kampus kami,” kenang Eso.
Eso juga aktif dalam menerbitkan koran alternatif pada masanya. “Bersama rekan-rekan aktivis, kami membuat koran SUAKA, singkatan dari Suara Kalangan. Kini nama itu saya gunakan untuk media online yang saya kelola,” ujarnya.
Krisis Profesionalisme di Era Media Digital
Dalam wawancara eksklusif, Eso mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren pemberitaan di era digital. Menurutnya, maraknya media online yang mengabaikan kaidah jurnalistik seperti news balance dan verifikasi menjadi tantangan besar dunia media saat ini. Hal ini semakin diperburuk oleh munculnya fenomena clickbait dan penyebaran berita tanpa verifikasi yang sering memicu keraguan publik terhadap kredibilitas media.
“Banyak media online sekarang yang tidak memperhatikan dasar penulisan dan kaidah EYD. Sebagai jurnalis, kita harus paham bahwa profesi ini punya standar yang tidak bisa diabaikan. Wartawan itu bukan sekadar penulis; ada tanggung jawab moral dan etika di dalamnya,” tegas Eso.
Ia juga menyoroti bagaimana pemberitaan sepihak dan kurangnya verifikasi sering kali menimbulkan polemik dan merusak citra media. “Jika jurnalis tidak menjaga kualitas, maka kita akan kehilangan kepercayaan publik. Wartawan sejati harus berpegang teguh pada fakta, mengedepankan keberimbangan, dan memastikan verifikasi dalam setiap berita yang disajikan,” ujar Eso.
Sertifikasi dan Kompetensi Bukan Satu-Satunya Tolok Ukur
Meskipun mendukung pentingnya Uji Kompetensi Wartawan (UKW), Eso menegaskan bahwa sertifikasi bukan satu-satunya tolok ukur dalam menilai profesionalisme seorang wartawan.
“Kompetensi itu penting, tetapi profesionalisme terletak pada sikap kita terhadap UU Pers dan kode etik jurnalistik. Wartawan yang baik adalah mereka yang mampu menjaga integritas, bekerja dengan hati, dan menghormati standar profesi,” katanya.
Dia juga menambahkan bahwa banyak wartawan yang kompeten meskipun belum mengikuti UKW, dan ini menunjukkan bahwa sertifikasi bukanlah satu-satunya indikator dari kualitas seorang wartawan.
Mengembalikan Marwah Jurnalistik di Era Informasi Digital
Eso mengajak organisasi jurnalis di Kabupaten Batanghari dan daerah lainnya untuk aktif meningkatkan kapasitas dan kualitas pemberitaan. “Saya berharap ada lebih banyak ruang untuk pelatihan, baik mandiri maupun institusional, agar wartawan di daerah tetap kompeten dan menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas. Media yang sehat dan berkompeten akan membawa dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 60% masyarakat Indonesia merasa khawatir terhadap kualitas berita yang disebarluaskan melalui media online, terutama terkait dengan berita yang belum terverifikasi. Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi media yang ingin mempertahankan kepercayaan publik.
Menjaga Integritas dan Marwah Profesi
Sebagai penutup, Eso kembali mengingatkan pentingnya bagi jurnalis untuk memahami dan mematuhi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers sebagai pedoman utama dalam setiap langkah jurnalistik. “Profesi wartawan itu mulia. Jangan kotori dengan berita yang menghakimi atau mengecam tanpa konfirmasi. Tugas kita adalah menyampaikan fakta, bukan membangun opini liar yang justru menyesatkan,” ungkapnya.
Dengan pengalaman panjangnya, Eso Pamenan tetap menjadi sosok yang lantang menyerukan kembalinya jurnalis pada prinsip dasar profesinya: menyampaikan informasi yang benar, berimbang, dan berdampak positif bagi masyarakat. Di tengah gempuran informasi digital yang tidak terkontrol, suaranya menjadi pengingat bahwa jurnalisme adalah profesi mulia yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan profesionalisme.
(redaksi)






